Danrem: Proxy War Sulit Dideteksi, Tapi Mematikan

Danrem: Proxy War Sulit Dideteksi, Tapi Mematikan

“Gunakan Nurani, Logika Dan Akal Pikir”

Taliwang, KOBAR – Tentara Nasional Indonesia (TNI) berkomitmen untuk terus berjuang bersama seluruh komponen daerah menghadapi ancaman dan bahaya Proxy War (Perang Proxy). Munculnya Proxy War sebagai cara baru yang sengaja digunakan oleh pihak tertentu untuk menguasai suatu wilayah. Sehingga diperlukan sinergitas dari semua lapisan dan golongan serta persatuan dan kesatuan dalam menjaga keselamatan bangsa dan negara Indonesia.

“Proxy war merupakan perang masa kini dimana salah satu pihak menggunakan pihak ketiga atau komponen lainnya untuk berperang melalui aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial dan aspek lainnya,” ungkap Komandan Korem (Danrem) 162 Wira Bhakti, Kolonel CZI Lalu Rudy Irham Srigede ST M.Si, saat memberikan ceramah Wawasan Kebangsaan tentang Proxy War, di lantai III gedung Setda Sumbawa Barat, Selasa (16/2).

Di hadapan 600 undangan terdiri dari jajaran pemerintahan KSB, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Ormas dan LSM, Danrem menyatakan, Indonesia sebagai salah satu negara equator yang memiliki potensi vegetasi sepanjang tahun akan menjadi arena persaingan kepentingan berbagai negara dan pihak-pihak tertentu.

“Untuk itu, diperlukan langkah antisipasi agar keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap terjaga,” jelasnya.

Menurut Danrem, penyebaran Proxy War harus diwaspadai karena jenis peperangan ini masuk kategori perang yang mematikan. Dalam hal ini, biasanya pihak ketiga yang bertindak sebagai pemain pengganti adalah negara kecil, namun kadang juga bisa non state actors yang dapat berupa LSM, ormas, kelompok masyarakat, atau perorangan.

“Perang Proxy ini tidak dapat dikenali dengan jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh bersifat non state actors yang mengendalikan dari jauh,” katanya. Proxy War telah berlangsung di Indonesia dalam bermacam bentuk, termasuk di daerah-daerah, seperti gerakan separatis dan lain-lain. NTB pun dalam hal ini wilayah-wilayahnya termasuk satu di antara yang perlahan demi perlahan dikeruk oleh pihak luar atau pihak ketiga untuk mencari pangan. Apalagi dengan pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk, lambat laut memicu konflik-konflik baru hingga terjadi Proxy War.

Danrem bahkan tidak memungkiri jika penyalahgunaan Narkoba juga memiliki keterkaitan strategi perang proxy. Kondisi ini untuk merusak generasi muda sehingga bangsa ini di masa depan tidak lagi memiliki generasi berkualitas.

“Jadi sudah menjadi kewajiban bersama untuk memerangi penyalahgunaan narkoba. Karena itu merupakan bagian dari unsur Proxy War yang harus dicegah dan menjadi penyebab generasi mendatang tidak berkualitas,” cetusnya.

Sejumlah data pun dipaparkannya seperti 1.500 jiwa meninggal tiap tahun akibat memakai narkoba dan pada 2016 diperkirakan 5,1 juta penduduk menyalahgunakan narkoba.

Solusinya, untuk mengatasi Proxy War, upaya yang terbaik dan paling sederhana adalah kembali ke dasar, yakni belajar hidup berdemokrasi yang lebih sehat, waras, bertanggung jawab dan bermartabat.

Selain itu, sangat dibutuhkan kesadaran dan kewaspadaan yang tinggi dari segenap lapisan masyarakat dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang merongrong kedaulatan NKRI. Apalagi sistem Proxy War tidak menggunakan senjata atau pengerahan kekuatan militer, tetapi mengadu domba.

“Sebagai bangsa yang besar, mari kita berbuat dan bekerja kreatif serta menjaga kesatuan dan persatuan dengan menepis sifat-sifat tidak terpuji,” harapnya.

Danrem meminta agar jangan berkecil hati menghadapi ancaman-ancaman, melainkan harus mulai melakukan langkah-langkah penangkalan dan antisipasi sejak dini.

“Kuncinya adalah gunakan nurani, logika dan akal pikiran kita,” sebutnya.

Khususnya bagi para pemuda sebagai motor bangsa bahkan diharapkan untuk memahami dan mengamalkan Pancasila secara utuh, bercermin pada sejarah Indonesia yang jelas-jelas telah mengajarkan bahwa kesatuan dan persatuan adalah langkah yang ampuh dalam menghalau segala bentuk penjajahan dan ancaman.

“Pentingnya hidup rukun antara satu dan lainnya, walaupun berbeda suku dan agama juga merupakan hal penting mencegah ancaman Proxy War. Toleransi antar umat bergama harus tetap terjaga. Jangan sampai situasi yang sudah kondusif dimanfaatkan oleh oknum tertentu serta memiliki kepentingan, yang pada akhirnya bisa mengadu domba satu sama lain,” demikian Danrem, Kolonel CZI Lalu Rudy Ilham Srigede, menandaskan. (ktas)

Don`t copy text!