fbpx
Lomba Panjat Pinang, Tradisi Ciptaan Imperialis

Lomba Panjat Pinang, Tradisi Ciptaan Imperialis

Setiap bulan Agustus tiba, keriuhan jelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia selalu dimeriahkan beragam acara dan lomba. Salah satu yang tak pernah ketinggalan adalah lomba panjat pinang. 7 hingga 10 orang yang tak berbaju dan hanya bercelana pendek, memeluk batang pinang yang telah dilicinkan dengan oli. Mereka saling menginjak, saling sikut, hingga wajah dan sekujur tubuh belepotan dengan oli. Semuanya, hanya demi bisa mencapai puncak batang pinang yang telah digantungi aneka hadiah menarik.

Konon tradisi ini mengandung nilai positif. Secara bersama-sama menaklukkan tantangan berat, melawan kesulitan dengan mengerahkan tenaga dan kerjasama. Konon ada nilai gotong royong dan kekeluargaan di dalamnya. Tradisi unik itu juga dipelihara karena menghibur banyak orang. Penonton tertawa geli melihat orang menginjak kepala temannya, wajah yang coreng moreng oli dihiasi bibir meringis menahan berat orang di atasnya. Licinnya oli menambah seru suasana, berkali-kali jatuh, merosot, bangun dan memanjat untuk melorot lagi.

Festival Hantu

Ada pendapat yang memperkirakan bahwa panjat pinang adalah pengaruh budaya Cina. Sebagaimana petasan yang mentradisi di negeri ini. Panjat pinang 17 Agustus-an memang berdekatan dengan perayaan bulan 7 Imlek yang jatuh di bulan Agustus-September setiap tahunnya.

Dalam kebudayaan Tionghoa, prosesi panjat pinang ini populer di Tiongkok selatan (Fujian, Guangdong, Taiwan) berkaitan dengan perayaan festival hantu. Perayaan ini tercatat pertama kali pada zaman Dinasti Ming, lumrah disebut sebagai “qiang-gu.” Namun pada zaman Qing, permainan panjat pinang ini pernah dilarang pemerintah karena sering timbul korban jiwa.

Kemudian, sewaktu Taiwan berada di bawah pendudukan Jepang, panjat pinang mulai dipraktekkan lagi dalam perayaan festival hantu. Tata cara permainan lebih kurang sama, dilakukan beregu, dengan banyak hadiah digantungkan di atas. Namun harus dipanjat adalah bangunan dari pohon pinang dan kayu yang puncaknya bisa sampai 3-4 tingkat bangunan gedung. Untuk meraih juara pertama, setiap regu harus memanjat sampai puncak untuk menurunkan gulungan merah yang dikaitkan di sana.

Tradisi Penjajah

Di Indonesia, tradisi panjat pinang dipopulerkan oleh penjajah Belanda. Para meneer dan mevrouw, tuan dan nyonya besar dari Holland, biasa menggelar panjat pinang dalam perayaan mereka. Semisal hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Peserta lomba ini adalah orang-orang pribumi. Mereka mengeluarkan sedikit modal untuk membeli batang pinang dan hadiah yang murah-meriah untuk ukuran kantong mereka yang penuh harta jarahan. Hadiah yang diperebutkann biasanya bahan makanan seperti keju dan gula serta, pakaian seperti kemeja. Bagi kalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah.

Dengan sedikit gulden, orang-orang Belanda bisa membeli hiburan. Menikmati penderitaan pribumi miskin yang dirampas negerinya dan dijarah hartanya. Melihat wajah-wajah sawo matang menjadi hitam berlumuran oli, saling menginjak sesamanya untuk berebut roti. Semua itu jadi bahan tertawaan dan hiburan mereka.

Di sisi lain, kaum pribumi yang tak sadar harga diri dan kehormatannya juga enjoy saja. Yang penting dapat kesempatan memperoleh hadiah mewah untuk ukuran hidupnya yang pas-pasan. Menginjak saudara pun tak apa.

Dua Sisi

Ada dua sisi utama dalam panjat pinang. Peserta yang sengsara bersusah payah dan penonton yang menikmati hiburan lucu berupa penderitaan para peserta. Kalau direnungkan, agak mirip suasananya dengan suasana pertarungan di Collosseum Romawi. Tempat para budak gladiator ditarungkan dengan singa atau sesamanya.

Dr. Abdullah Azzam mengomentari bahwa peradaban Kristen Barat mewarisi kekejaman Romawi. Kegemaran menyiksa dan menarungkan para budak dengan binatang adalah cermin budaya “menikmati penderitaan orang lain.” Hal ini yang hingga kini dilestarikan di dunia hiburan Barat seperti Hollywood yang dikuasai Yahudi.

Kembali ke panjat pinang, memang tak sekejam tontonan di era Romawi. Para peserta hanya belepotan oli, tak berlumuran darah seperti para budak yang diterkam singa atau disabet pedang lawannya. Tapi unsurnya tetap sama: penonton bersuka-ria menikmati penderitaan orang lain. Penderitaan menjadi hal lucu yang ditertawakan. Melihat antusiasme pribumi memanjat  batang pinang, penjajah Belanda pun semakin meyakini superioritas mereka. Devide et impera, dipecah-belah kemudian dijajah, berlanjut dengan mengibuli pribumi dengan panjat pinang, pribumi miskin disatukan untuk saling injak berebut hadiah murah.

Di Indonesia, tradisi panjat pinang dipopulerkan oleh penjajah Belanda. Para tuan dan nyonya besar dari Holland, biasa menggelar panjat pinang dalam perayaan mereka. Peserta lomba ini adalah orang-orang pribumi. Dengan sedikit gulden, orang-orang Belanda bisa membeli hiburan. Menikmati penderitaan pribumi miskin yang dirampas negerinya dan dijarah hartanya.

Sayang, sejarah memilukan ini tak dikenal (atau dilupakan) oleh kaum pribumi negeri ini. Semboyan jahiliah “tradisi ini kami lakukan karena turun temurun dilakukan oleh bapak-bapak kami” agaknya lebih kuat melekat daripada kesadaran akan harga diri dan kehormatan.

Maka, setiap tahun, tradisi panjat pinang terus berlangsung. Inilah warisan penjajahan di alam bawah sadar yang diwariskan secara turun-temurun. Karakter ini agaknya yang bisa membuat Belanda, negeri seupil yang kebanjiran jika bendungan penahan air lautnya jebol, bisa menjajah negeri ini 350 tahun. Bukan sepenuhnya salah Belanda, memang ada orang-orang yang menikmati dijajah. (An Najah)

Don`t copy text!