fbpx
Tantangan Pendidikan di Era Globalisasi

Tantangan Pendidikan di Era Globalisasi

Oleh : M. Sobry Sutikno *)

Globalisasi menurut seorang sosiolog Australia bernama Malcolm Waters dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1995 yang berjudul “Globalisasi” adalah: “Sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial-budaya menjadi kurang penting, yang terjelma di dalam kesadaran orang”. Thomas Friedman, di dalam bukunya The Lexus and The Olive Tree menganggap globalisasi sebagai “Orde Baru Dunia” yang disebarkan dunia barat setelah Perang Dingin dengan blok Komunis. Dalam perkembangannya, globalisasi ditandai dengan berkembangan sumber informasi, teknologi, hilangnya kedaulatan negara dan munculnya hegemoni budaya global. Dengan demikian setiap orang harus mempersiapkan diri dengan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan oleh sebuah sistem yang global pula agar tidak tersisihkan oleh perubahan yang berjalan sangat cepat.

Meskipun banyak yang merasa khawatir dengan adanya globalisasi tetap saja tidak bisa terelakkan karena sudah menjadi sebuah keniscayaan. Sekolah juga terkena dampak globalisasi. Dengan salah satu fungsinya yaitu mempersiapkan tenaga kerja atau profesi, maka dunia pendidikan harus menyesuaikan dirinya dengan perubahan-perubahan yang ada.

Hadirnya Globalisasi dapat memberikan dampak ganda, yaitu dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif adalah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada semua pihak untuk dapat berkompetisi dalam sebuah ruang yang bersifat global. Dampak negatifnya adalah jika sumber daya manusia yang dimiliki oleh sebuah negara tidak cukup mampu bersaing, maka konsekwensinya negara tersebut akan tersisih dari percaturan global dan menjadi obyek pihak yang memiliki kualitas lebih.

Jika kita tinjau realitas pendidikan kita, secara umum dapat dikatakan kondisi pendidikan nasional dalam keadaan terpuruk. Hal ini bisa dilihat dari survey yang dilakukan oleh United Nation Development Program (UNDP) yang menunjukkan peringkat Human Development Index (HDI) Indonesia berada di peringkat 111 pada tahun 2004 lalu.  Di negara ASEAN posisi kita jauh tertinggal dari Filipina (83), Thailand (76), Malaysia (59), Brunei Darussalam (33) dan Singapura (25). Posisi Indonesia hanya tidak kalah dari Vietnam yang menduduki posisi 112, selisih satu peringkat di bawah Indonesia.

Jika ditelusuri, persoalan pendidikan Nasional memang sangatlah kompleks. Arief Rahman menyebutkan sembilan titik lemah dalam aplikasi sistem pendidikan di Indonesia:

  • Titik berat pendidikan pada aspek kognitif
  • Pola evaluasi yang meninggalkan pola pikir keratif, imajinatif dan inovatif.
  • Sistem pendidikan yang bergeser (tereduksi ke pengajaran)
  • Kurangnya minat belajar pada siswa
  • Kultur mengejar gelar (title) atau budaya mengejar kertas (ijazah).
  • Praktik dan teori kurang berkembang
  • Tidak melibatkan semua stake holder, masyarakat, institusi pendidikan dan pemerintah
  • Profesi guru hanya profesi ilmiah bukan kemanusiaan
  • Problem nasional yang multidimensional dan lemahnya political will pemerintah.

Tak perlu kuatir, semua penyakit pasti ada obatnya. Beberapa hal yang perlu dikembangkan agar pendidikan kita tidak semakin terpuruk dan tidak tertinggal menghadapi era globalisasi, adalah sebagai berikut:

  • Orientasi pendidikan tidak hanya berupa teori-teori, namun harus dibarengi dengan praktik. Praktek pembelajaran harus lebih diperbanyak. Sehingga siswa akan mudah mengembangkan keterampilannya.
  • Dalam proses belajar mengajar, guru harus benar-benar mau mengembangkan pendidikan yang berbasis siswa sehingga akan terbentuk karakter kemandirian sebagai karakter yang dituntut dalam era global.
  • Guru harus benar-benar menguasai materi pelajaran dan ilmu mendidik. Hal ini bisa dilakukan dengan studi lanjut sesuai dengan spesialisasi, pelatihan, work shop, maupun studi banding ke institusi-institusi yang sudah maju.
  • Perlunya pembinaan dan pelatihan tentang peningkatan motivasi belajar terhadap siswa.
  • Harus ditanamkan pola pembelajaran yang berorientasi proses bukan hasil, sehingga siswa akan terbiasa untuk belajar maksimal dengan mementingkan pada substansi bukan formalitas.
  • Profesi guru harus dihargai dengan maksimal.
  • Mengembangkan budaya baca bagi kalangan anak usia sekolah maupun masyarakat umumnya.
  • Pemerintah harus konsisten dengan kebijakan yang telah ditetapkan. Contoh yang paling nyata adalah alokasi APBN untuk pendidikan seharusnya benar-benar 20 %.
  • Perlunya dukungan dan partisipasi komprehensif dari semua pihak yang memiliki kepentingan dengan pendidikan. Perlu adanya kerjasama antar pengelola lembaga pendidikan, pemerintah, perusahaan dan masyarakat. Jika ditinjau dari skup KSB, maka dibutuhkan kerjasama antara pengelola lembaga pendidikan (TK, SD, SMP, SMA, mapun perguruan tinggi), pemerintah (Bupati KSB sebagai pemegang kebijakan tertinggi di KSB), perusahaan (PT. NNT sebagai salah satu perusahaan raksasa yang hidup dan  berperan sebagai penguras kekayaan alam KSB), dan masyarakat.

Apabila kesemua langkah-langkah tersebut telah dilaksanakan, bukan mustahil jika kualitas pendidikan Indonesia umumnya dan Kabupaten Sumbawa Barat Khususnya akan semakin baik.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif YNTP for research and Development Kabupaten Sumbawa Barat – NTB (Tode Dasan, Desa Dasan Anyar, Kecamatan Jereweh, KSB)

Don`t copy text!