fbpx
Nelayan Butuh Bukti, Bukan Janji

Nelayan Butuh Bukti, Bukan Janji

Siapa berani menyangkal ! Kalau  hampir seluruh, sumber protein rakyat berupa ikan berasal dari luar Sumbawa Barat. Padahal, Sumbawa Barat dikenal kaya dengan potensi perikanan laut diantaranya ikan. Namun, apa daya potensi  kelautan yang diklaim tinggi itu belum dapat dieksploitasi akibat sarana dan prasana nelayan yang terbatas.

Nampaknya, kini tidak perlu  berdebat lagi, karena faktanya  rakyat nelayan mengakui krisis alat tangkap, akibatnya mereka tidak dapat bekerja sebagai nelayan  secara maksimal.  Posisi mereka sebagai rakyat miskin  bakal tidak  beranjak, malah semakin melekat merk nelayan miskin dan terbelakang. Padahal, daerah ini dikenal sebagai daerah kaya raya ?

Selama ini, pemimpin daerah ini masih senang nelayan “dikibuli” dengan janji manis ketika ingin menggalang suara untuk dipilih menjadi pemimpin, namun setelah menjabat, mereka terkesan dicampakkan. Dalam kurun waktu setahun ini belum ada kebijakan populis yang dikeluarkan untuk membantu nelayan Sumbawa Barat. Fakta hingga kini nelayan di seluruh pesisir KSB  mengeluh dan berteriak meminta belas kasihan pemerintah.

KOBAR edisi kali ini sengaja menurunkan Tajuk “Nelayan Butuh Bukti, Bukan Janji”, dengan  fakta hari ini dimana nelayan di seluruh  KSB mengeluhkan keterbatasan alat tangkap mereka. Akibatnya, jangankan untuk bersaing dengan nelayan lain, bertahan hidup saja susah. Lalu dimana letak komitmen  pemerintah daerah ini ?

Tanpa ingin berdebat panjang lebar, semestinya Pemkab Sumbawa Barat dalam pengajuan APBD 2012  mengalokasikan dana bantuan untuk memodernkan alat tangkap nelayan di Sumbawa Barat.

Sedikitnya ada dua faktor besar yang dijadikan  alasan alat tangkap nelayan perlu dimodernkan ? Pertama alasan kemandirian dan kedua alasan  potensi perikanan di Sumbawa  Barat.

Para nelayan di Sumbawa Barat hingga kini belum dapat mandiri, baik secara finansial maupun pengetahuan, sebab  alat tangkap yang dimiliki sangat terbatas. Untuk menangkap ikan masih mengandalkan pancil dan  perahu kecil. Padahal alat tangkap pancil itu paling premitif untuk industri perikanan. Bagaimana nelayan Sumbawa Barat akan mandiri kalau alat tangkapnya sendiri sangat sederhana. Rakyat Indonesia, termasuk di KSB terkenal penakluk samudra, tetapi akibat  hanya mengandalkan  perahu  kecil, jarak tangkap mereka hanya hitungan mil saja. Coba bandingkan dengan nelatan Jepang, Filipina dan lainnya dibekali dengan kapal modern telah berhasil menjangkau lokasi ikan dan berhasil  menciptakan kemandirian nelayannya baik finansial maupun  pengetahuannya.

Alasan kedua yang mendesak nelayan KSB diberdayakan karena potensi perikanan laut KSB yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil survey perikanan dan kelautan di wilayah laut Sumbawa Barat terbukti kaya akan potensi  perikanan. Kini, potensi itu hanya menjadi mimpi para nelayan untuk dieksploitasi karena keterbatasan alat tangkapnya. Malahan, kini  potensi kelautan Sumbawa Barat malah asyik dijarah oleh nelayan daerah lain bahkan nelayan tetangga ?

Sampai disini, mestinya pemerintah tidak lagi berfikir pakai istilah lama lagi, segera modernkan alat tangkap nelayan KSB untuk kemandirian dan kejayanan maritim Sumbawa Barat. Amin. (*)

Don`t copy text!